Maz - Tanto82 gagal dalam bermain wambi

Kegagalan saya dalam bermain Wambi

Setelah sukses dalam “ Grand Koalisi 2003 “ Anniversary Himki ke – 3, dalam kontes lomba burung di Taman Wisata Purwahamba Indah. Yang akhirnya “ Traiper “ sebutan nama Cucak Ijo yang mendapatkan juara V, yang telah saya tulis pada bab sebelumnya dengan judul “Cucak Ijo - Ku Jadi Kenangan” pada situs blog saya http://maztanto82cucakijo.blogspot.com . Menjadikan tambah semangatnya dalam memelihara dan merawat burung tersebut. Selanjutnya rasa ingin saya menambah jenis lain yang didapatkan dari lagi-lagi “ Mas Bejo “ di kiosnya Pasar Burung Kota Tegal. Saya lihat burung-burung yang digantangkan di depan kiosnya, akhirnya saya tertarik pada seekor burung “ Wambi “ sebutan dari para penggemar burung berkicau Tegal. Burung Wambi merupakan burung import asalnya dari hongkong yang dikenal dengan nama : “ Hwa Mey “. Akhirnya dengan uang Rp. 350.000.- burung Wambi... (sebut aja begitu biar gampang ) saya dapatkan Sehingga pemeliharaan burung saya semakin bertambah ( ada Cucak Ijo, Robin, Jalak, Cendhet dan Wambi ). Hari- hari saya semakin disibukkan dengan merawat burung ocehan tersebut sehabis pulang kantor, yang mana pada saat itu masih 6 ( enam ) hari kerja sehingga masih ada waktu untuk memandikannya, menjemur serta membersihkan sangkar-sangkar burung tersebut. Disitulah seni memelihara, kesabaran dan keuletan kita diuji, .......bagaimana tidak ? karena burung ocehan bila di biarkankan saja hanya sekedar memberi makanan, tidak akan bisa gacor. apalagi burung tersebut disiapkan untuk lomba. Memang mengkorbankan waktu yang seharusnya untuk istirahat, digunakan untuk merawat burung. Sekarang bertambah satu burung lagi yang rencana disiapkan sebagai jagoan di medan laga. Pelik dan agak rumit dalam merawat burung Wambi memerlukan perhatian tersendiri untuk mempelajari karakternya. Lagi-lagi sebagai pemula saya merasa tidak tau banyak tentang perawatan Wambi . Wambi mudah sekali stres bila diberlakukan tidak pas dalam perawatannya ( misalnya wambi sebaiknya lebih banyak dikerudung ) meskipun burung – burung kicau lainnya juga perlu dikerudung sangkarnya. Beda dengan Cucak Ijo atau Cendhet yang harus banyak di jemur namun wambi memerlukan jemur yang relatif lebih pendek waktu jemurnya. .. Logika saya berkata mungkin karena wambi asal muasalnya dari daerah beriklim dingin di dataran Tiongkok. Sebulan, dua bulan, tiga bulan .........berjalan, Wambi saya semakin gacor / bocor ocehannya dan banyak variasi lagunya dan terdengar nyaring ... ada suara tembakan-tembakannya ( istilah para penggemar burung ).


wambi

Sulit sangat sulit bagi saya menyiapkan Wambi dalam keadaan stamina yang siap untuk dilombakan. Suatu saat saya bawa untuk latihan dengan sesama penggemar burung ocehan di jalan Poso kota Tegal, Wambi saya termasuk lumayan ada lagunya namun mental belum siap untuk dilombakan dalam even yang besar. Selama 4 bulan saat itu belum menemukan karakter si Wambi meskipun saya berusaha mencari mencoba dengan segala cara. Memang si Wambi saya kalau di rumah sangat bocor ocehannya bahkan ada rekan sesama penggemar burung naksir Wambi saya karena saking bocor dan variasi lagunya bagus , speednya rapet, tembus suaranya. Tapi bila di bawa ke latihan penampilannya seperti minder (kalah pamor dengan lawannya). Dalam pikiran saya mengapa ...ya? Tapi rasa optimis saya tetap ada. Ketika ada lomba di lokasi Taman Wisata Pantai Alam Indah kota Tegal yang diikuti dari beberapa daerah Lumayan bergengsi/ tidak lokal-an Wambi saya lombakan. Ternyata apa yang saya lihat....Wambi saya takut turun naik dari .... kata Mas Bejo wah kayaknya mbujung pak pri...mudah2an aja nggak stres. Memang Wambi kalau sudah stres sulit dan lama sembuhnya. Akhirnya sampai rumah Wambi saya masukkan ke bak mandi ( tempat khusus untuk memandikan burung ) untuk mengurangi stress. Hari esoknya Wambi tetap aja bocor bunyi terus. Saya sampai-sampai heran....mengapa????? kata rekan-rekan Wambi jantan biar bisa tampil itu harus didampingi dengan wadonan ( Wambi Betina ). Pantesan pada saat lomba akan dimulai banyak orang2 pada ndekatkan wambi wadonan dengan wambi jagoannya... pikir saya sebagai pemula. Setelah itu saya minta tolong ke Mas Bejo untuk mencarikan wambi wadonan.


Wambi harus sering didekatan denganpasangannya

Karena saya sebagai pemula, saya percaya dan terus cari wambi perempuan, saya dapatkanwambi perempuan dicarikan “ Mas Bejo” , dengan harga Rp.150.000,- saat itu. Dalam mencari wambi perempuan itupun sulit karena wambi semakin langka. Setelah didapatkannya, Wambi jagoan saya ada perubahan lebih semangat seperti manusia percaya dirinya ada. Lagi-lagi setiap saya lombakan ngoceh aja tidak malah lompat-lomapat seperti ketakutan. Padahal bila ada di rumah bunyi terus jarang berhenti. ( Katanya jagoan kandang ). Disitulah saya merasakan gagal dalam bermain Wambi. Wambi tetap aja saya rawat dan pelihara namun tdak saya lombakan. Lama-kelamaan selama satu setengah tahun, jenuh dan bosan juga dengan wambi Akhirnya Wambi saya jual. Dan saya membeli “ Muray Batu ” yang masih agak muda namun sudah ngoceh. ( tentang “ Muray Batu “ akan saya ceritakan dalam tema tersendiri dalam episode berikutnya ). Saat itu saya nggak punya jagoan sementara cucak ijo saya dalam keadaan lepas bulu ( mbrodhol bulunya ), saya berhenti lomba karena belum punya burung jagoan yang siap dilombakan. Namun saya hampir setiap hari habis magrib beli kroto, jangkrik dan makanan burung cucak ijo sambil silaturahmi dengan rekan-rekan burung, di kiosnya Mas Bejo sambil cari-cari burung lain. Sehingga burung peliharaan saya saat itu sampai berjumlah 10 ekor burung. Ada Cucak Ijo, Muray batu, Cendhet, Kanari, Anis merah, Anis Kembang, Jalak, dan sebagainya. Sehingga kegiatan saya rutin hanya merawat /pemeliharaan saja kegiatan lomba-lomba berhenti kurang lebih selama enam bulan. Saya mengamati burung2 saya sepertinya “ Muray Batu “ yang bisa disiapkan sebagai jagoan. Suatu ketika ada lomba bergengsi di Pekalongan setelah enam bulan tersebut, Mas Bejo bercerita kepada saya......begini : Pak Pri , Wambine njenengan sing disade rumiyen,.....kalawingi lomba teng Pekalongan angsal Juara 2 lo. (maksudnya : Pak Pri, ...Wambinya bapak yang dijual itu....kemarin lomba di Pekalongan dapat juara 2), saya menjawab : apa iya ndak mungkin mas jo...bertahun-tahun saya melihara dan saya lombakan nggak pernah bunyi sama sekali kok di dalam lomba...saya tetap nggak percaya. Namun Mas Bejo meneruskan bicaranya : benar pak ... bapak kalau nggak percaya mari bapak saya ajak ke rumahnya yang membeli (kebetulan rekan sesama penggemar burung di Tegal). Mangga, jawab saya. Di perjalanan mas Bejo sambil bicara : nanti dengarkan lagunya ya.....saya jawab: ya , memang saya hapal betul wambi itu karena hampir dua tahun saya pelihara. Sesampai dirumahnya, Wambi tersenut langsung moncer seolah paham terhadap tuannya dulu yang selalu memelihara. Ee...ee...ee ya...ya..mas saya baru percaya memang itu wambi yang saya jual waktu itu. Bisanya ya mas?.... ternyata rekan yang membeli lebih jeli dan lebih bisa menemukan karakter si burung Wambi. Saya tanya ... caranya bagaimana? Dia menjawab : Wambi itu ternyata di pancing dengan wadonan yang pas dan cocok. Artinya tidak sembarang wadonan. Pantes waktu di saya dulu sama sekali nggak bisa moncer, meskipun saya sudah membeli wadonan wambi. Akhirnya setelah ditemukan karakter si Wambi tersebut oleh rekan saya yang membeli, setiap lomba selalu masuk juara 1 atau 2. Disitulah letak Kegagalan saya bermain Wambi “.

Maz – Tanto82, ............tunggu episode selanjutnya “ Muray Batuku di medan laga ”

long Hwa mey

Tidak ada entri.
Tidak ada entri.